merantaulah untuk menimba ilmu
perkataan imam syafii ini menjadi motivasi tersendiri bagi para penuntut ilmu
Yahya bin Ma’in berkata bahwa salah satu golongan yang tidak akan mendapat kecerdasan adalah golongan yang hanya menulis ilmu di daerahnya sendiri tanpa berpetualang, hijrah, ataupun merantau ke daerah lain untuk mencari Hadits (ilmu).
Seringkali
kita merasa cukup dengan sumber ilmu dan guru-guru yang ada di daerah
sendiri. Padahal rasa kecukupan itu bisa menjadi bumerang dan hal buruk
jika tidak diantisipasi. Hal buruk yang dimaksud adalah minimnya
pengalaman dan pengetahuan. Dengan merantau kita akan mendapatkan ilmu
dari berbagai sudut pandang, lebih menghargai ilmu, dan lebih toleran
dengan perbedaan furu’iyyah.
Lihatlah
bagaimana orang-orang yang hanya menuntut ilmu di daerahnya sendiri,
lebih kaku dan sulit menerima perbedaan. Lebih fundamental dan kuat
dalam memegang prinsip yang mendarah daging di daerahnya. Padahal boleh
jadi prinsip-prinsip itu tidak semuanya baik dan tidak semua pandangan
baru dari luar daerah itu buruk.
Dalam
ilmu, kita haram merasa cukup. Islam, lewat lisan Nabi Muhammad
shalallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan kita untuk tidak berpuas diri
dalam ilmu dan kita wajib terus menerus mencari ilmu, sebagaimana
Hadits,
“tuntutlah ilmu sejak dari kandungan hingga ke liang lahat”
Artinya,
mencari ilmu adalah pekerjaan sepanjang usia. Renungkanlah kisah Jabir
bin Abdullah yang melakukan perjalanan ke Syam dengan jarak satu bulan
perjalanan hanya untuk satu Hadits dari Abdullah bin Unais. Lihatlah,
betapa kedudukan Abdullah bin Jubair tidak membuatnya merasa sombong
dengan ilmunya. Perhatikan bagaimana ilmu mengangkat derajat pemiliknya.
Jabir bin Abdullah merupakan salah satu sahabat yang utama dalam
Hadits, namun begitu tawadhunya hingga bersusah payah dalam perjalanan
menuju Syam menemui Abdullah bin Unais untuk satu buah Hadits.
Merantau
untuk ilmu adalah hal yang sangat utama. Hal ini dicontohkan oleh para
Nabi, Sahabat, dan generasi setelahnya. Tidak ada manusia yang meragukan
kedudukan mulia Nabi Musa as, hingga diberi gelar Kalamullah. Jika
dibandingkan kedudukan Nabi Musa as, Nabi Khidir as bukanlah apa-apa.
Namun untuk ilmu, Nabi Musa as dengan tawadhunya melakukan perjalanan
jauh hanya untuk ilmu. Jika manusia sehebat, semulia, dan setingkat Nabi
Musa as saja merantau untuk ilmu, kenapa kita merasa cukup dengan ilmu
di daerah kita? Astaghfirullah.. Alangkah takaburnya kita dalam ilmu.
Imam
Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai orang yang ingin mencari ilmu, apakah
dengan mengikuti orang berilmu atau dengan merantau. Imam Ahmad
menjawab bahwa yang utama adalah merantau atau melakukan perjalanan guna
mencari ilmu sehingga ia bisa mengetahui ilmu orang-orang (dari daerah
lain) dan belajar darinya.
Abu Ishaq
Al-Ghazi mengatakan bahwa orang yang hanya menuntut ilmu di daerahnya
sendiri semisal orang buta yang tidak butuh pelita. Karena
ketidaktahuannya bahwa ilmu itu luas maka ia merasa tidak butuh dengan
ilmu dari luar daerahnya. Ilmu adalah pelita, jangan batasi ilmu dengan
berdiam diri. Merantaulah, mengasingkan diri, rihlah, bepergian ke
tempat yang jauh, carilah ilmu seluas-luasnya.
Siapkan
tekad, berbekallah untuk perjalananmu. Jangan ragu dengan ilmu. Abu
Dzar Al-Ghifari hanya meminum air zam-zam selama 30 hari hanya untuk
mendengarkan satu kalimat dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa
salam. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani tidak memakan apa pun selama
berhari-hari untuk ilmu. Kesusahan-kesusahan yang dialami para ulama
mengangkat derajat mereka. Begitulah, sebaik-baik bekal adalah takwa.
Dengan takwa para ulama mencari ilmu, dengan ilmu mereka menjadi mulia
dan kisahnya diceritakan sampai sekarang.
Jika
kita mencermati sejarah para ulama, maka kita akan mengetahui bahwa
ilmu dicari dalam perjalanan jauh, bukan hanya berdiam diri di daerah
sendiri. Imam Syafi’i hijrah dari Gaza ke Madinah untuk menemui Imam
Malik bin Anas. Imam Bukhari, imam Muslim, Imam Ahmad bin Hanbal, dll
merantau meski hanya untuk satu huruf. Apakah perjalanan mereka sia-sia?
Tentu tidak. mereka sadar bahwa ilmu itu didatangi, bukan sebaliknya.
Kita
adalah air, jika berdiam diri maka kotoran tidak akan terbersihkan,
dengan merantau kita menghilangkan kotoran syubhat dalam ilmu kita.
Merantau dicontohkan oleh seluruh ulama, tidak ada keburukan dalam
merantau untuk ilmu. Merantaulah, karena merantau adalah kesempurnaan
belajar.[1]
[1] Diambil dan diedit dari buku Kisah Para Ulama dalam Menuntut Ilmu, karya Syaikh Abdul Fatah Abu Ghuddah (terjemahan, judul asli shafahat min shabr al-ulama ala syada’id al-ilmu wa at-tahshil)

Komentar
Posting Komentar